Categories

Keutamaan Dzikir Kepada Allah SWT

Bookmark and Share
Keutamaan Dzikir Kepada Allah SWT
Senin, 14 Februari 2011



قَالَ رَسُوْلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ، إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ، ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ، بِشِبْرٍ، تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا، تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي، أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً. (صحيح البخاري) وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا مَعَ عَبْدِي حَيْثُمَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ (صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah SAW: “Dia Allah berfirman: “Aku bersama prasangka hambaKu, dan Aku Bersamanya ketika ia mengingatKu, jika ia mengingat/menyebutku dalam kesendirian, maka Aku Mengingatnya dalam DzatKu, jika ia mengingatKu, ditempat yang ramai, maka Aku mengingatnya ditempat yang lebih ramai (para malaikat2 suci) (Shahih Bukhari)
Dan berkata Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW, Allah SWT berfirman: “Aku bersama hambaKu, saat hambaKu mengingatku dan bergerak bibirnya menyebut namaKu” (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Memuliakan hamba-hamba-Nya dengan berbagai macam bentuk keluhuran, beribu amal perbuatan, beribu niat dan segala sesuatu yang diperbuat oleh hamba-hamba-Nya, yang kesemua itu bisa Allah subhanahu wata’ala jadikan perantara untuk menuju kepada keridhaan-Nya namun penyambungnya adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, seluruh rantai terputus kecuali dengan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bersambunglah para rasul kepada Allah maka bersambung pula seluruh ummat ini kepada Allah dengan perantara nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala Maha Raja langit dan bumi, Maha Penguasa Tunggal dan Abadi, Maha melimpahkan kesejahteraan sepanjang waktu dan zaman, tanpa peduli Dia melimpahkan apa yang dikehendaki-Nya kepada hamba-hamba-Nya, ada diantara mereka yang dilimpahi kenikmatan untuk semakin jauh dari-Nya, dan ada pula yang dilimpahi kenikmatan untuk semakin bersyukur kepada-Nya, dan ada pula yang dipersempit agar tidak semakin jauh dari-Nya, sungguh tiada perbuatan yang lebih indah dari perbuatan-Nya, dan telah disabdakan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa : “ tidak ada satupun yang lebih cemburu daripada Allah subhanahu wata’ala”. Allah itulah cinta, pemilik dan pencipta cinta, maka jika ada seorang hamba yang lebih cinta kepada selain Allah maka Allah akan cemburu. Maka dirisaukan jika salah seorang hamba diberi keluasan di dunia, maka dia akan terlena di dalamnya padahal dunia hanyalah kehidupan yang sementara bagaikan orang yang hidup dari pagi hingga sore harinya saja. Diriwayatkan di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari, ketika rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang bersandar, ditanyakan kepada beliau tentang kehidupan : “wahai Rasulullah, mengapa engkau begitu santai?”, maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “hidup ini hanyalah selintas saja, seperti seorang yang berjalan kemudian berteduh di bawah pohon rindang kemudian berjalan lagi”. Berjalan melanjutkan kehidupan yang kekal, kehidupan di dunia bagi kita mungkin hanya 100 tahun bahkan sangat sedikit sekali yang hidup mencapai 100 tahun, sebagian hanya sampai 70 atau 80 tahun, umur semakin pendek dan semakin dekat dengan hari kiamat. Dan setiap detik adalah roda waktu yang berjalan menuju kematian, dan setiap detik itu ada hamba-hamba yang dimuliakan oleh Allah menuju puncak-puncak keluhuran. Hadirin hadirat, bagaimana dengan hamba-hamba yang lewat dengan dosa dan kesalahan, padahal setiap putaran detik itu akan dipertanggung jawabkan. Sebagaimana syarh hadits yang kita baca tadi, sungguh indahnya firman Allah subhanahu wata’ala, hadits ini disebut hadits qudsi, yaitu firman Allah yang diucapkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tetapi tidak dicantumkan dalam Al qur’an Al Karim, dimana makna atau isinya dari Allah namun lafadznya dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan Al qur’an Al Karim makna atau isi dan lafadznya dari Allah subhanahu wata’ala. Hadits qudsi yang kita baca tadi :

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ

“ Aku tergantung ( bersama ) prasangka hamba-Ku”

Maksudnya adalah semakin seorang hamba itu ingin dekat kepada Allah maka Allah juga ingin dekat kepada hamba-Nya, bagaimana kita mengetahui bahwa maknanya demikian, yaitu dengan melihat akhir dari hadits ini, karena jika kita hanya berhenti di potongan hadits ini maka maknanya pun belum jelas, dimana makna hadits ini adalah samudera yang sangat luas, samudera tauhid yang tidak akan pernah ada dasarnya, bagaiamana kedalaman tauhid Ilahi, maka diperjelas makna hadits ini dengan kalimat-kalimat di akhirnya, yaitu :

وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“ Jika dia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku mendekat kepadanya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku mendatanginya dengan bergegas”

Maka kalimat ini memperjelas makna dari “ aku tergantung (bersama) dengan prasangka hamba-Ku”. Jika hati seorang hamba ingin lebih dekat kepada Allah maka Allah ingin lebih dekat kepadanya, jika hamba ingin jauh dari Allah maka Allah juga ingin jauh darinya. Oleh sebab itu jika kita fahami, hadits ini merupakan panggilan cinta yang sangat indah dari Allah subhanahu wata’ala, yang diturunkan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk disampaikan kepada ummatnya hingga sampailah kepadaku dan kalian di malam hari ini, bahkan kita sudah sering mendengar tentang hadits ini, tawaran cinta dari Rabbul ‘alamin dan bagaimana prasangka kita terhadap Allah subhanahu wata’ala, jika kita mencintai Allah subhanahu wata’ala maka ungkapkan dan kemukakanlah, kapan kita mengucapkannya atau melafadzkannya?!, maka hadits qudsi yang kedua Allah berfirman:

أَنَا مَعَ عَبْدِى حَيْثُمَا ذَكَرَنِى، وَتَحَرَّكَتْ بِى شَفَتَاه

“ Aku bersama hamba-Ku ketika ia menyebut-Ku dan bergetar bibirnya menyebut nama-Ku”

Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari menjelaskan makna hadits ini bahwa satu jengkal kedekatan kepada Allah subhanahu wata’ala, dimana kedekatan dengan Allah itu bisa dengan lisan (dzikir), namun mendekat kepada Allah bukan hanya dengan lisan saja, tetapi bisa dengan hati, tangan, harta, dan yang lainnya namun dalam hadits ini menunjukkan bahwa ada hal yang paling disenangi dan dicintai Allah, sebagaimana seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “wahai Rasulullah, syariat dan ibadah dalam agama ini sangat banyak sehingga aku terkadang bingung untuk memilih mana yang lebih utama, maka tunjukkanlah aku satu hal saja yang membuat aku dicintai Allah subhanahu wata’ala, masuk ke dalam surga dan selamat dari api neraka”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “biarkan lidahmu selalu basah dengan dzikir kepada Allah subhanahu wata’ala”, maksudnya adalah dengan banyak menyebut nama Allah subhanahu wata’ala. Maka hal ini kembali kepada hadits yang disebut tadi وَتَحَرَّكَتْ بِيْ شَفَتَاهُ ( bergetar bibirnya dengan menyebut nama-Ku ), karena orang yang mencintai sesuatu maka akan banyak menyebutnya. Maka hal yang sangat menggembirakan dan perlu kita banggakan dan kita syukuri adalah dengan adanya mejelis-mejelis dzikir Jalaalah di saat ini, dimana disaat nama Allah sudah mulai tidak ada lagi orang-orang yang menyebutnya, sehingga masih banyak orang di zaman sekarang malu untuk menyebut nama Allah, keadaaan yang seperti ini terjadi di pulau Jawa yang mayoritas adalah muslimin maka bagaiamana di wilayah lainnya. Dan di saat seperti itu muncullah semangat dari para pemuda-pemudi kita untuk menggemuruhkan lafadz Allah, maka hal itu patut kita bela dan kita pedulikan jika kita cinta kepada Allah subhanahu wata’ala. Alangkah indahnya di saat panggung-panggung maksiat tersebar yang semakin menjauhkan manusia dari Allah, setiap detik-detik yang lewat penuh dengan kehinaan, justru kita gemuruhkan panggung terbesar yang megumandangkan nama Allah subhanahu wata’ala tepat di hari kelahiran nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini adalah hadiah ulang tahun untuk sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadirin hadirat, kita berharap acara besok adalah merupakan maulid terbesar di dunia, semoga acara ini sukses, amin. Acara ini tidak hanya akan disiarkan oleh channel televisi di Indonesia saja, bahkan CNN dan Aljazeera juga akan meliputnya. Ya Allah, disaat telah banyak orang-orang yang tidak lagi menyebut nama-Mu, maka jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memperjuangkan gemuruhnya nama-Mu, jadikan perkumpulan kami perkumpulan terbesar yang menggemuruhkan nama-Mu di hari lahirnya sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, di ibukota negeri muslimin terbesar di muka bumi. Ya Allah jika melihat dosa-dosa kami maka kami tidak pantas mendapatkan kemuliaan ini namun kemuliaan dari kedermawanan-Mu lah yang menarik kami untuk terlibat dalam hal ini, Ya Allah catat seluruh nama kami yang hadir di majelis ini dan yang menyaksikan dari kejauhan termasuk dalam kelompok yang menggemuruhkan nama-Mu disaat nama-Mu mulai dilupakan dan malu untuk diucapkan, amin ya rabbal ‘alamin.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Maka dari hadits diatas dapat kita fahami bahwa nama-nama orang yang berdzikir dengan berkelompok dan berjamaah akan disebut dan digemuruhkan oleh Allah subhanahu wata’ala di langit. Allah Yang menyebut nama-nama mereka yang menggemuruhkan nama-Nya, sungguh hal ini merupakan anugerah yang demikian agung di malam hari ini. Kedua hadits qudsi ini sengaja saya rangkapkan dimana maknanya sering saya sebut namun kali ini baru dituliskan, sebagai hadiah dan saksi untuk kita kelak di hari kiamat kelak bahwa di malam 12 Rabi’ul Awal, di malam lahirnya sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kita mendengar hadits ini dan membacanya bersama-sama, dan Allah subhanahu wata’ala menjadi saksi. Dan Allah subhanahu wata’ala menyebut nama-nama yang menyebut nama-Nya. Siapakah kita? Hanyalah hamba yang siang dan malam penuh dosa. Hadirin hadirat, para pendoa termuliakan dan disetiap detiknya mereka semakin dekat kepada Allah. Dalam sebuah riwayat ada dua orang yang ditimbang amal baiknya dan keduanya sama-sama berat, namun hanya berbeda satu kalimat “Subhanallah” saja namun perbedaan derajatnya di surga bagaikan antara langit dan bumi, hanya berbeda dalam satu kalimat “Subhanallah” saja, maka terlebih lagi jika lebih dari itu. Ucapan saya ini bukan berarti kita tidak perlu lagi bekerja atau berusaha, namun agar kita tidak terlalu banyak memikirkan hal-hal yang fana daripada hal-hal yang kekal. Ingatlah selalu kepada hal yang kekal dan berjalanlah dengan hal yang fana, maka hal yang fana ini akan tunduk kepada Yang memilikinya.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Ketahuilah di dalam usaha menuju kesuksesan, detik-detik penentu adalah milik Allah, penentu sukses atau tidaknya hanyalah Allah subhanahu wata’ala, dan kesuksesan itu membawa kebaikan yang kekal atau tidak Allah juga yang menentukan. Oleh sebab itu beruntung orang yang berusaha dan terus berpegang kepada tali Allah subhanahu wata’ala yaitu utusan-Nya yang paling dicintai-Nya, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani mensyarahkan hadits tadi bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa : “ setiap orang di surga itu mempunyai kenikmatan yang berbeda-beda, dan tidak ada kenikmatan yang lebih indah daripada memandang keindahan Allah subhanahu wata’ala”, hal itu adalah kenikmatan yang paling lezat dari semua kelezatan yang ada di surge. Dan orang-orang di surge pun ada tingkatan derajatnya, Al Imam Ibn Hajar berkata bahwa ada orang yang selama 1000 tahun hanya sekali melihat Allah, ada yang selama 100 tahun sekali melihat Allah, ada yang 10 tahun sekali untuk diizinkan melihat Allah, dan ada pula yang hanya sekali saja melihat Allah, dan ada hamba yang setiap hari melihat Allah, sebagaimana sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa ada diantara hamba-hamba Allah ada yang setiap pagi dan sore melihat Allah subhanahu wata’ala, dan bagaimana dengan hamba yang telah melihat Allah sebelum wafatnya, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sudah berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala sebelum beliau wafat, di malam mi’raj kemudia beliau kembali ke bumi. Sungguh betapa indahnya cinta Allah subhanahu wata’ala kepada sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka malam ini adalah malam doa, malam dzikir, malam agung, malam 12 Rabi’ul Awal, begitu banyak hamba-hamba yang didekatkan kepada Allah subhanahu wata’ala. Kalau seandainya kita kehilangan satu detik saja maka akan membuat lepasnya derajat kita di langit dan bumi dan hal itu kekal dan abadi, satu detik yang kita tangisi yang telah lewat dalam hal-hal yang bukan ibadah, maka terlebih lagi jika lewat dalam dosa bagaimana kita tidak akan menangisi dosa-dosa kita. Oleh sebab itu tunduknya jiwa dan sanubari hamba, Allah berikan kepemimpinannya kepada orang yang paling tunduk kepada Allah, yaitu sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan di dalam Sirah Ibn Hisyam di saat beliau lahir, beliau langsung bersujud kepada Allah subhanahu wata’ala, dan telunjuk beliau menunjuk ke langit dan berkata :

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Ucapan itu diucapkan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan fasih di saat bayi, ketika lahir beliau langsung bersujud tanpa ada setetes darah pun, dan tanpa ada sakit sedikitpun yang dirasakan, menunjukkan bahwa inilah pemimpin orang yang bersujud, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dijelaskan di dalam surah Maryam, bahwa nabi Isa AS ketika lahir sudah bisa berbicara, karena ibunya ( sayyidah Maryam ) merasa bingung dan risau atas cobaan yang tiba-tiba hamil tanpa seorang suami, sehingga mulailah banyak fitnah dan ucapan-ucapan orang lain yang mencela keadaanya, maka sayyidah Maryam berkata, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَى جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا

( مريم : 23 )

“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (besandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan". ( QS. Maryam : 23 )

Maka diilhamkan kepada sayyidatuna Maryam agar di saat melahirkan nanti untuk menunjuk saja kepada bayinya tanpa harus berbicara apapun, maka bayi itu yang akan menjawab, dimana maka itu berkata sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :

وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا

( مريم : 15 )

“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali” ( QS. Maryam : 15 )

Itulah nabiyullah Isa As bin Maryam, disaat lahir langsung bisa berbicara. Disebutkan di dalam Fathul Bari menukil tentang tanda-tanda kelahiran nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diantaranya adalah padamnya api di Kekaisaran Persia yang selama ribuan tahun belum pernah padam, dan juga runtuhnya singgasana di Istana Kisra. Disaat hampir terbitnya fajar lahirlah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, hadiah teragung dari Allah Allah subhanahu wata’ala sebagai “Rahmatan Lil ‘aalamin”. Seluruh alam semesta bergemuruh dengan tasbih karena kelahirannya. Sayyidina Abbas Ibn Abdul Mutthalib RA, salah satu paman Rasulullah yang masuk Islam, beliau berkata kepada rasulullah:

يَارَسُوْلَ اللهِ أَذِنِّي لِأَمْتَدِحَكَ

" Wahai Rasulullah izinkan aku untuk ( membacakan syair ) memujimu "

Maka Rasulullah berkata :

قُلْ لَا يفَضِّضُ اللهُ فَاكَ

" Ucapkanlah (syairmu) semoga Allah menjaga mulutmu ( gigimu ) dari segala penyakit "

Maka berkatalah sayyidina Abbas bin Abdul Mutthallib dan diantara ucapannya adalah :

أَنْتَ لَمَّا وُلِدْتَ أَشْرَقَتِ اْلَأرْضُ وَضَـاءَتْ بِنُوْرِكَ اْلأُفُقُ فَنَحْنُ فِيْ ذَلِكَ الضِّيَاءِ وَفِي النُّوْرِ وَسُبُلِ الرَّشَـادِ نَخْتَرِقُ

“Ketika engkau terlahir ke bumi bersinar dan cakrawala dipenuhi dengan cahayamu, dan kami pun selalu berada di tengah cahaya dan jalan yang penuh petunjuk "

Kita memahami jika cahaya matahari saja bisa menyinari seluruh barat dan timur, maka terlebih lagi cahaya makhluk yang paling dicintai Allah subhanahu wata’ala, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana keindahanya tidak Allah perlihatkan keseluruhannya, sebagaimana dijelaskan oleh Al Allamah As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki dalam kitabnya Muhammad Insaan Al Kaamil, dimana ketika ditanya ketika di zaman nabi Yusuf para wanita mengiris-iris jari-jarinya karena keindahan nabi Yusuf As, namun hal itu tidak terjadi pada zaman nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka dijelaskan oleh As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki di dalam kitabnya Muhammad Insaan Al Kaamil bahwa Allah menyembunyikan keindahan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana 9 bagian disembunyikan dan hanya 1 bagian yang diperlihatkan di bumi, dan jika seandainya kesemuanya diperlihatkan maka tanpa disadari manusia akan mengiris jantungnya dari indahnya wajah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Wajah itu akan kita lihat insyaallah, mudah-mudahan kita termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang membanggakan beliau, bukan kelompok yang mempermalukan beliau, amin. Demikian indahnya kelahiran nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan pula bagaimana indahnya malam kelahiran nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam sirah Ibn Hisyam dijelaskan bahwa ketika waktu fajar itu seorang Yahudi berteriak di tempat yang tinggi di kota Yatsrib, ia berkata : “ Celakalah kalian wahai kelompok orang Yahudi, semalam sudah terbit bintang yang menunjukkan tanda-tanda kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”. Tanda-tanda itu telah disebutkan dalam kitab nabi-nabi terdahulu, di Injil, Taurat dan Zabur. Maka malam kelahiran nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sudah dirayakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Namun mengapa para sahabat tidak pernah merayakannya?, karena mereka telah merayakan dengan nyawa mereka, harta mereka, setiap detik dan nafas mereka penuh dengan cinta kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, berjuang satu niat bersama rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun berbeda dengan masa kehidupan selanjutnya, dimana keadaan iman semakin menurun, butuhlah pengetahuan, pembenahan dan penguatan, maka ketika para imam melihat manusia sudah mulai mengidolakan orang lain selain nabinya, dibuatlah maulid nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana di dalamn maulid itu hanyalah cerita tentang sejarah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan kenapa harus 12 Rabi’ul Awal?!, karena hari itu adalah hari lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mengapa dilarang untuk membaca sejarah rasulullah di hari kelahiran beliau, bahkan justru rasulullah merayakan hari lahir beliau. Dijelaskan di dalam Shahih Muslim bahwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih sembelihan dan ketika ditanya tentang sembelihan di hari Senin itu beliau menjawab : “ hari itu adalah hari dimana aku dilahirkan”,,. Dan juga Rasulullah tidak mengatakan tentang puasa hari Senin boleh atau tidak, maka di saat sahabat bertanya kepada Rasulullah : “wahai Rasulullah apa hukumnya puasa hari Senin?”, maka rasulullah menjawab : “hari itu adalah hari kelahiranku”, sungguh jawaban yang sangat sempurna bagi yang memahami bahasa, namun berbeda dengan orang yang tidak mengerti bahasa dan memahaminya dengan kedangkalan atau keterpurukan aqidah. Semua orang memahami bahwa jawaban dari rasulullah itu maksudnya bahwa hari Senin adalah hari kelahiran beliau dan berbeda dengan hari-hari yang lain, berarti rasulullah membedakan antara hari Senin dengan hari yang lainnya. Maka ketika beliau ditanya tentang hukum puasa hari Senin, beliau menjawab : “hari tu adalah hari kelahiranku”, agar para sahabat mengingat hari kelahiran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana firman Allah tentang nabi Isa :

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا (33) ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ (34)

“Kesejahteraan atas diriku pada hari aku dilahirkan, dan pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali, itulah isa bin Maryam, (dan ucpan isa as ini) adalah ucapan kebenaran yg kalian padanya meragukan” ( QS. Maryam : 33,34 )

Itulah nabiyullah Isa bin Maryam. Hal ini menunjukkan bahwa para-para nabi itu hari kelahiran dan hari wafatnya adalah rahmat. Dan hari lahir dan wafatnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sama-sama hari Senin, bahkan hijrahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah Al Munawwarah pun tepat pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awal. Dijelaskan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke Madinah Al Munawwarah bersama sayyidina Abu Bakr As Shiddiq pada hari Senin bulan Rabi’ul Awal. Maka jika mau membaca maulid di hari 12 Rabi’ul Awal silahkan dan di hari yang lainnya pun tidak masalah. Majelis Rasulullah setiap malam membaca maulid, namun pada tanggal 12 Rabi’ul Awal dibuat event besar, sebagai khidmah kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena jika melihat dosa-dosa kita bagaiamana kita akan mengharap surga Allah dan mengharap bisa melihat keindahan Allah dengan mata kita yang penuh dosa ini, apa iya kita akan diberi kenikmatan yang sangat indah dan kekal yang siang dan malam kita berbuat dosa, padahal sekali saja kita berbuat dosa hal itu itu sudah cukup bagi Allah untuk menjadikan penghalang bagi kita untuk masuk ke dalam surge. Kelak di akhirat yang ada hanya surga atau neraka, jika tidak di surga maka pastilah di neraka, tidak ada tempat yang ketiga,, salah satu diantara 2 tempat itu yang abadi bagi kita. Sebagian mengatakan bahwa ada gunung diantara surga dan neraka, yaitu tempat orang-orang yang belum mengetahui Islam, tidak ada yang mengajari mereka, di gunung itu mereka melihat semua penduduk surga masuk ke dalam surga dan penduduk neraka masuk ke dalam neraka, dan setelah kesemuanya selesai, maka mereka ditanya oleh Allah: “ apa yang kalian lihat?” maka mereka menjawab : “orang-orang yang mentiadakan Tuhan selain Engkau maka masuk surga, dan orang-orang yang menyekutukan Engkau masuk neraka”, maka ditanyakan kepada mereka: “ lalu bagaimana dengan kalian?”, mereka menjawab : “kami meyakini tiada Tuhan selain Engaku”, maka mereka pun masuk ke dalam surga Allah subhanahu wata’ala, dan tidak ada orang yang kekal di neraka kecuali orang-orang yang Allah ketahui jika seandainya dia balik ke dunia maka ia tetap akan berbuat maksiat.

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, pastikan seluruh nama kami yang hadir dan seluruh keluarga dan kerabat kami tercantum di surga-Mu Ya Allah, dan kami ingin memandang-Mu di setiap saat, kami tidak ingin 1000 tahun sekali memandang-Mu, tidak pula 100 tahun sekali memandang-Mu, namun kami ingin setiap detik Engkau beri kesempatan untuk memandang keindahan Dzat-Mu…

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Alhamdulillah kita semua hadir di majelis dzikir ini yang telah disiarkan langsung juga oleh Al Jazeera dan terlebih dari itu nama-nama kita telah digemuruhkan di langit, insyaallah. Selanjutnya pembacaan qasidah mengenang indahnya nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian kalimat talqin dan doa penutup oleh guru kita Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas, yatafaddhal masykuuraa…

Ditulis Oleh: Munzir Almusawa

{ 1 komentar... Views All / Post Comment! }

embun pagi mengatakan...

dzikir kepada Allah dengan tasbih, tahmid, tahlil, atau asma'ul husna serta membaca shalawat kepada Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah amalan yang ringan,mudah dilakukan kapan saja,dan tanpa perlu keluar modal tetapi sangat bermanfaat bagi kehidupan kita di dunia dan akhirat. Jadi mari kita lakukan terus samapi akhir hidup kita.

Poskan Komentar