Categories

Cerdas = Kemampuan Survive?

Bookmark and Share
Seorang yang mengaku anak punk bernama Eric Ningrat (erickningrat.wordpress.com)
menulis artikel yang berisi perspektifnya tentang kecerdasan yang diberi judul Cerdas dalam Hidup!
Intinya, dia mempertanyakan metode pengajaran di sekolah khususnya dalam menentukan tingkat
kecerdasan anak didik yang cenderung menghakimi individu dan bisa menjadi boomerang atau kontra
produktif terhadap individu yang bersangkutan.

Salah satu yang dikritik olehnya adalah penggunaan standard digital dalam penentuan kelulusan (UAN).
Menurutnya, penggunaan standard 'digital' dalam penentuan kelulusan tersebut, hanyalah merupakan bentuk
kegagalan atau ketidakmampuan pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak didik per
anak didik (individu, bukan kolektif).

Di sisi lain dia membandingkan kondisi anak-anak putus sekolah (yang mungkin dampak dari
pemberlakuan UAN itu) di daerahnya. "Mereka sangat lincah dan lihai dalam menghadapi tekanan hidup.
Dengan umur segitu mereka sudah pintar cari duit sendiri, sebenarnya kondisi psikis mereka belum siap
menerima kehidupan yang 'keras' seperti itu. Dan dilihat dari cerdasnya mereka dalam manjalani hidup,
gue sangat salut," tulisnya.

Dalam pandangan Erick, anak-anak putus sekolah itu sesungguhnya lebih cerdas.
Setidaknya mereka telah membuktikan kecerdasannya dalam menghadapi tekanan hidup yang keras,
dan mereka lolos!

Saya sependapat dengan Eric dan menurut saya, anak-anak yang putus sekolah itu telah mengambil
keputusan yang tepat. Jika memaksakan diri untuk melanjutkan sekolah, tentu ceritanya akan lain.

Sekolah-sekolah biasanya hanya menghimbau anak didik untuk rajin belajar, agar mendapatkan nilai
yang baik. Dengan demikian bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah lulus
mencari kerja dan setelah mendapatkan pekerjaan, berarti mendapatkan uang (gaji)....
Anak-anak yang putus sekolah, umumnya berasal dari keluarga yang secara ekonomi harus bekerja
ekstra keras untuk mendapatkan uang agar bisa tetap survive. Sehingga mereka tidak punya waktu
dan dana yang cukup untuk mengikuti pola pendidikan yang demikian.

Untuk menjadi pintar, memang harus bersekolah. Tetapi menjadi cerdas, tidak mesti harus bersekolah
tinggi-tinggi. Kadang-kadang, alam dengan segala 'keanehannya' bisa menjadi sekolah yang paling efektif.
Toh, pada akhirnya kecerdasan seseorang akan diuji dengan tekanan hidup masing-masing.
Jika kita bisa lolos, dan bisa meningkatkan kualitas hidup, bolehlah kita memuji diri sebagai orang cerdas.
Jadi, cerdas dalam hidup adalah cerdas untuk hidup!

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar