Categories

Emotional Spiritual Quotient (ESQ)

Bookmark and Share
Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilauan) minyak. Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?
(Quran 55: ar-Rahman 37-38)

Apakah sholat saya lebih rajin, ibadah saya lebih khusyu? Hmm.. jujur nggak juga, tapi satu hal yang tertanam hingga kini yaitu berubahnya perspektif saya dalam memandang Islam dan Allah SWT. Islam yang secara tradisional identik dengan budaya timur tengah dan bahasa arab, menjadi suatu keagungan ajaran yang universal dan relevan dengan ilmu pengetahuan kuantum yang bahkan masih belum terjamah pemikiran manusia.

Memang, kebanyakan materi agama Islam yang saya dapat sedari kecil, hanyalah sebatas ajaran aturan teknis beribadah atau cerita kejayaan Islam masa lampau tanpa kupasan/diskusi yang lebih dalam tentang esensi ibadah/cerita tersebut; seperti ini dosa, ini wajib, dan itu sunnah, baca doa ini baca doa itu agar sampai hajatnya, sholat khusyu dengan lafal bahasa arab yang sempurna, habis waktu untuk hal-hal di permukaan saja tanpa sempat menyentuh kalbu dengan cahaya Islam yang sebenarnya. Bisa dimengerti karena terbatasnya lingkup pergaulan dari guru kita tersebut dan latar belakang pendidikan yang seadanya, namun kita harus tetap menghargai dan berterimakasih kepada semua yang telah memberikan kita pelajaran tentang agama karena tidak semua orang mau menjadi guru agama/mengaji.


Apa yang kau lihat ketika bencana datang kepadamu?
Hanya peristiwa alamkah atau teguran dariNya?

Apa yang kau lihat ketika alam semesta kau jelajahi?
Hanya keajaiban alamkah atau kebesaranNya?

Apa yang kau lihat ketika kau berdiri didepan cermin?
Hanya penampilan fisikmukah atau siapa di balik dirimu?

Apa yang kau lihat ketika kau shalat?
Hanya sajadahmu kah atau keyakinanmu kepadaNya?

Apa yang kau lihat ketika kau mengitari ka’bah?
Hanya sebongkah kotak hitam yang kosongkah atau imanmu kepadaNya?

Apa yang kau lihat ketika ibu ayahmu memberikan kasih sayangnya?
Hanya sebatas mereka adalah orang tuamukah atau siapa yang meniupkan
sifat kasih sayang itu?

Berapa kali kita harus menganggap semua ini dengan kesombongan kita? sebatas mata di kepala kita? Padahal Allah menyampaikan dalam surat cintaNya ~ Al Quran bahawa segala sesuatu di dunia ini, langit ditinggikan dan gunung ditegakkan agar manusia mahu belajar disebaliknya.
Sungguh bukan matamu yang buta tetapi hati didalam dadamu…

Demi matahari dan sinarnya di pagi hari
Demi bulan apabila ia mengiringi
Demi siang hari apabila menampakkan diri
Demi malam apabila ia menutupi
Demi langit beserta seluruh binaannya
Demi bumi serta yang ada di hamparannya
Demi jiwa dan seluruh penyempurnaannya

bagaimana kita melakukan Perubahan cara pandang dan timbulnya penghargaan serta kekaguman atas ajaran Islam dan Allah SWT???

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar